
Seperti
kasus Pilidar (istri Kapten Tantawi pejuang pada peristiwa Situjuh), www.antara-sumbar.com Jum’at. 15/01/2010 pukul18:34. Pilidar dan anak-anaknya sangatlah menderita. Sejak
tahun 1965 tidak ada tunjangan yang diberikan pemerintah pada keluarganya. Padahal
pada tahun 1963, ada rapel yang diberikan pemerintah pada keluarga, tetapi
setelah itu tidak ada lagi, kata Ertalina, anak pertama Kapten Tantawi. Menurut
penuturan Pilidar, pada tanggal 15 Januari 1949 tersebut, ia yang sedang
mengandung anak kedua bersama anak pertamanya, Ertalina sedang berada dalam
pengungsian di Batu Payuang karena keadaan di Air Tabit, rumah Kapten Tantawi
beserta keluarga sudah tidak aman lagi.Lihat selengkapnya di website :
http://www.antarasumbar.com/berita/kab-lima-puluh-kota/d/11/75865/derita-istri-pejuang-tak-dapat-perhatian-pemerintah.html
“Malam
sebelum kejadian, saya sempat bermimpi dengan mendiang. Beliau minta saya
datang menjenguk ke Situjuh. Ternyata tiga hari kemudian saya mendapatkan kabar
beliau telah mendahului, meninggal dalam tugas memperjuangkan bangsa,kata
Pilidar”. Pilidar mengaku, dua tahun setelah kejadian, ia baru dapat mendatangi
makam tersebut, karena situasi saat itu belum memungkinkan.Sepeninggal Kapten
Tantawi, Pilidar hidup bersama dengan anaknya dengan menggantungkan pencarian
pada profesi tani.
Sungguh
malangnya nasib keluarga pejuang kemerdekaan kita seperti Pilidar dan keluarga
pejuang Kapten Tantawi pada peristiwa Situjuh. Memang itulah manusia, tak
sedikitpun merasa segala apa yang dimilikinya seakan-akan muncul begitu saja
dan mengatas namakan semuanya adalah perjuangan mereka sendiri padahal justru
sebaliknya. Segala kedamaian yang kita miliki kenyatannya asalah berkat
jasa-jasa pahlawan yang rela berkorban demi kepentingan Negara untuk mewujudkan
kemerdekaan.
Seharusnya
sebagai wujud penghargaan kepada jasa-jasa pahlawan jangan OMDO aje… buktiin
dengan wujud yang nyata bukan sekedar kata-kata. Apa susahnya sich.. membantu
sedikit misalnya memberi tunjangan, rumah, serta segala apapun kiranya mampu
meringankan beban keluarga para pejuang. Jangan hanya berucap “MENGENANG JASA
PAHLAWAN” saja tetapi wujudnya belum terlaksana. Pemerintah juga, tega sekali
melantarkan keluarga pejuang seperti Pilidar. Mereka butuh kita juga bukan
malah diasingkan karena ayahnya telah usai bertugas. Harusnya kita sadar bahwa
wafatnya para pejuang yang terdahulu tidak lain untuk memepertahankan
kemerdekaan yang kita rasakan saat ini.
Bagi
generasai muda seperti mahasiswa khususnya, usahakan hargai para pejuang dengan
wujud yang nyata tidak usahlah bermodal berkata-kata. Karena OMDO hanyalah alat
sementara dan tidak berdampak positif justru bagi keluarga pejuang itu
merupakan wujud yang tak terasa sedikitpun bagi mereka. Mulai sekarang setiap
ada keluarga atau sanak saudara dekat kita kiranya merupakan bagian dari
keluarganya adalah bekas pejuang coba kita bantu semampu kita agar mereka
merasa bahwa PERJUANGAN MEREKA (PARA PEJUANG) MASIH DIAKUI BUKAN DILUPAKAN BEGITU SAJA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar